Suara Pesisir Menggema: Reklamasi Surabaya Dinilai Rugikan Rakyat Kecil.

Surabaya, Detikpk.com — Suara penolakan terhadap proyek reklamasi di Kota Surabaya kian menggema. Ratusan nelayan bersama warga pesisir kembali turun ke jalan, Senin (22/9), menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Balai Kota Surabaya. Mereka menilai proyek reklamasi tidak berpihak pada masyarakat kecil dan justru mengancam keberlanjutan lingkungan hidup.

Dalam aksinya, para demonstran membawa spanduk, poster, dan pengeras suara. Sepanjang orasi, mereka menegaskan bahwa reklamasi tidak hanya berdampak pada rusaknya ekosistem laut, tetapi juga menutup ruang hidup masyarakat pesisir. “Laut adalah dapur kami. Kalau laut hilang, kami mau makan apa? Pemerintah harus memikirkan rakyat kecil, bukan hanya pengembang,” teriak salah seorang nelayan di tengah aksi.

Menurut kelompok nelayan, reklamasi berpotensi merusak habitat ikan, udang, kerang, hingga terumbu karang. Jika kondisi itu terjadi, otomatis hasil tangkapan akan menurun drastis. Hal ini dikhawatirkan membuat nelayan kehilangan sumber penghasilan utama. “Selama ini hidup kami hanya bergantung pada laut. Jika reklamasi jalan, maka kami akan kehilangan segalanya,” ungkap perwakilan komunitas nelayan pesisir Surabaya.

Selain kerugian ekologis, dampak sosial reklamasi juga tidak bisa dianggap remeh. Hilangnya hasil laut akan berdampak pada sektor ekonomi lainnya, termasuk pedagang ikan, pengepul, hingga industri kecil yang menggantungkan bahan baku dari laut. Artinya, ribuan warga Surabaya berpotensi ikut terkena imbas jika reklamasi tetap dijalankan.

Massa aksi juga menyampaikan bahwa reklamasi kerap dijadikan proyek yang lebih menguntungkan pihak swasta dibanding masyarakat luas. Mereka mendesak Wali Kota Surabaya untuk segera menghentikan rencana ini dan mencari alternatif pembangunan yang lebih ramah lingkungan. “Kami tidak menolak pembangunan, tapi jangan sampai pembangunan dilakukan dengan mengorbankan rakyat kecil. Surabaya butuh solusi yang adil, bukan kebijakan yang merusak,” tegas salah satu tokoh masyarakat pesisir.

Sejumlah aktivis lingkungan yang turut hadir dalam aksi itu juga menegaskan bahwa reklamasi bisa memperparah krisis iklim. Menurut mereka, hilangnya kawasan pesisir akan meningkatkan risiko banjir rob dan abrasi. “Pesisir adalah benteng alami Surabaya. Jika itu dihancurkan, maka kota ini akan semakin rentan terhadap bencana,” jelas seorang aktivis lingkungan.

Aksi ini ditutup dengan doa bersama di depan Balai Kota Surabaya sebagai simbol perjuangan menjaga laut dan ruang hidup masyarakat pesisir. Para peserta aksi berjanji akan terus menyuarakan penolakan hingga reklamasi benar-benar dibatalkan.

 

( Kabiro Kota Surabaya Detikpk.com )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *