RIAU – detikpk.com – Pembangunan dan perbaikan duiker di Simpang Puskesmas Alahair, Kecamatan Tebingtinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti, tampaknya tidak pernah lepas dari sorotan masyarakat. Sejak awal pelaksanaannya hingga kini proyek tersebut terus menjadi perbincangan karena dinilai menyisakan sejumlah persoalan di lapangan.
Ketika duiker lama mengalami kerusakan dan roboh beberapa waktu lalu, masyarakat sempat mengeluhkan terganggunya akses transportasi di kawasan tersebut. Lokasi yang berada di jalur strategis menuju pusat aktivitas warga membuat perbaikan infrastruktur itu menjadi kebutuhan mendesak. Namun dalam perjalanannya, proyek tersebut mulai menuai kritik dari berbagai kalangan.
Sorotan pertama muncul terkait nilai kontrak pekerjaan yang tidak wajar dan dilaksanakan melalui metode Penunjukan Langsung (PL). Berdasarkan informasi yang beredar, proyek itu dikerjakan oleh CV Seagull Pasific dengan nilai kontrak lebih dari Rp233 juta.
Tidak hanya soal nilai kontrak, progres pengerjaan di lapangan juga sempat menjadi perhatian masyarakat. Dengan waktu pelaksanaan yang direncanakan selama 60 hari kalender, sebagian warga menilai pekerjaan berlangsung cukup lambat dan tidak menunjukkan perkembangan signifikan pada beberapa tahap pelaksanaan.
Di lokasi proyek, material bangunan memang terlihat telah tersedia dan alat berat sesekali beroperasi. Namun sejumlah warga mengaku sering melihat aktivitas pekerjaan terhenti dalam beberapa kesempatan sehingga menimbulkan pertanyaan terkait efektivitas pelaksanaannya.
Secara teknis, duiker yang dibangun memiliki panjang sekitar 18 meter, lebar 2 meter, dan kedalaman 1,8 meter. Konstruksi tersebut menggunakan material dengan spesifikasi tertentu, di antaranya semen tipe VC 20 dan besi tulangan berdiameter 12 milimeter yang disesuaikan dengan kebutuhan struktur bangunan.
Kini, setelah pekerjaan dinyatakan selesai, kritik kembali bermunculan. Kali ini sorotan tertuju pada kondisi akses jalan di atas duiker yang dinilai kurang nyaman dan berpotensi membahayakan pengguna jalan.
Beberapa warga menyebut elevasi atau kemiringan jalan pada bagian tanjakan jembatan terlalu curam. Kondisi tersebut disebut-sebut menjadi salah satu penyebab terjadinya sejumlah kecelakaan tunggal, khususnya saat cuaca hujan dan permukaan jalan menjadi licin.
Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah pengendara sepeda motor dilaporkan terjatuh ketika melintasi lokasi tersebut. Bahkan warga mengaku pernah melihat sebuah sepeda motor masuk ke parit setelah pengendaranya kehilangan kendali saat menuruni tanjakan.
“Sudah beberapa kali ada yang jatuh di sini, apalagi saat hujan. Tadi siang ada motor sampai masuk ke parit karena pengendara tidak bisa mengendalikan kendaraan saat melewati jembatan,” ujar seorang warga yang ditemui di sekitar lokasi.
Tidak hanya kendaraan roda dua, warga juga menyebut pengguna becak dan gerobak pengangkut barang sering mengalami kesulitan saat melintasi duiker tersebut. Kemiringan jalan membuat kendaraan harus melaju dengan sangat hati-hati untuk menghindari risiko terguling maupun tergelincir.
Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti bersama instansi teknis terkait dapat segera turun ke lapangan untuk melakukan peninjauan langsung. Warga meminta dilakukan evaluasi maupun penyesuaian konstruksi apabila memang diperlukan agar akses jalan tersebut lebih aman dan nyaman dilalui masyarakat.
“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah. Kalau memang perlu diperbaiki atau direnovasi kembali, sebaiknya segera dilakukan supaya tidak ada lagi korban kecelakaan di lokasi ini,” harap warga.
Warga juga berharap langkah cepat dapat diambil demi menjamin keselamatan pengguna jalan serta mencegah terjadinya kecelakaan serupa di masa mendatang, mengingat duiker tersebut merupakan salah satu akses penting yang setiap hari dilalui masyarakat Alahair dan sekitarnya.
Untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap terkait berbagai keluhan masyarakat tersebut, wartawan kemudian melakukan konfirmasi kepada Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Kepulauan Meranti, Rahmat Kurnia ST.
Rahmat menjelaskan bahwa pembangunan duiker di Simpang Puskesmas Alahair dilakukan sebagai tindak lanjut atas ambruknya bangunan lama yang terjadi pada Desember 2025 lalu. Kerusakan tersebut dinilai cukup membahayakan pengguna jalan sehingga perlu segera ditangani melalui pembangunan kembali.
Namun demikian, proses perbaikan baru dapat dilaksanakan pada awal tahun 2026 setelah seluruh tahapan administrasi dan penganggaran dapat dipenuhi oleh pemerintah daerah.
Menurut Rahmat, desain duiker yang dibangun saat ini memang berbeda dibandingkan konstruksi sebelumnya. Hal itu dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi geografis kawasan tersebut yang kerap terpengaruh pasang surut air laut.
Ia menjelaskan, elevasi atau ketinggian duiker sengaja dibuat lebih tinggi dari permukaan air pasang. Tujuannya agar bagian bawah konstruksi tidak terendam air asin yang berpotensi mempercepat kerusakan struktur bangunan.
“Desain duiker dibuat lebih tinggi dari permukaan air saat pasang. Tujuannya agar bagian bawah jalan tidak terkena air asin pasang yang dapat menyebabkan beton maupun besi menjadi cepat keropos,” jelas Rahmat.
Meski demikian, pihaknya tidak menampik bahwa kondisi saat ini menyebabkan perbedaan elevasi antara badan jalan dengan duiker yang cukup terasa saat dilintasi kendaraan.
Atas kondisi tersebut, Dinas PUPR mengaku telah melakukan evaluasi dan berencana mengusulkan penanganan lanjutan melalui penganggaran pada tahun berikutnya.
“Kondisi saat ini memang tinggi duiker dengan jalan memiliki kelandaian yang agak tinggi. Untuk itu ke depan Dinas PUPR akan menganggarkan pekerjaan lanjutan berupa leveling atau penyesuaian badan jalan di sekitar duiker tersebut,” ujarnya.
Saat ditanya mengenai sejumlah kecelakaan yang disebut-sebut terjadi akibat tingginya elevasi jalan pada duiker tersebut, Rahmat mengatakan pihaknya turut memperhatikan kondisi tersebut dan akan menjadikannya sebagai bahan evaluasi.
Menurutnya, sambil menunggu penanganan lanjutan dilakukan, pengguna jalan diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan saat melintas di kawasan Simpang Puskesmas Alahair, terutama pada saat cuaca hujan maupun kondisi jalan licin.
“Untuk mencegah terjadinya kecelakaan akibat elevasi box culvert yang cukup tinggi, kami mengimbau seluruh pengendara agar selalu berhati-hati, mengurangi kecepatan saat memasuki persimpangan dan tetap memperhatikan kondisi jalan,” katanya.
Pihak PUPR berharap kesadaran pengguna jalan dan langkah penanganan lanjutan yang direncanakan pemerintah dapat meminimalisir risiko kecelakaan, sekaligus menjaga fungsi infrastruktur tersebut agar tetap bertahan dalam jangka panjang di tengah kondisi lingkungan pesisir yang cukup ekstrem. (KHAIDIR USMAN)
0 Komentar