Kisah Pilu Dahlan: Anak Yatim Patah Tulang di BBI Bungus, Hidup Susah Ibu Penjual Kayu Api.
Padang – Detikpk.com, 12/09/2025.
Duka mendalam menyelimuti keluarga kecil di Bungus, Padang. Dahlan, seorang anak yatim yang masih duduk di bangku kelas 3 SDN 16 Timbalun, mengalami cedera serius patah tulang pada tangan kirinya setelah terpeleset saat membantu temannya memetik buah mangga di kawasan UPTD Balai Benih Ikan (BBI) Bungus, Kamis (11/9/2025).
Peristiwa itu membuat tangan kiri Dahlan patah parah. Ia segera dilarikan ke Rumah Sakit Tentara Ganting, Padang, dan kini menjalani operasi di ruang perawatan R. Agus Salim.
Ibunda Terpukul, menghidupi 7 Anak Seorang Diri

Ibu Dahlan, Malis, tak kuasa menahan air mata melihat kondisi putranya. Meski biaya operasi sudah ditanggung pemerintah, ia tetap dihadapkan pada persoalan berat: kebutuhan hidup sehari-hari.
“Kami tidak punya biaya lagi, bahkan untuk beli sarapan pagi saja kami kesulitan,” ungkap Malis dengan suara bergetar.
Sebagai ibu tunggal yang kehilangan suami, Malis harus berjuang menghidupi 7 anaknya. Setiap hari ia mencari kayu api di hutan untuk dijual, namun penghasilan tak seberapa itu tidak cukup menutupi kebutuhan keluarga.
Solidaritas dari Guru dan Harapan Bantuan Pemerintah
Rasa haru sedikit terobati ketika guru-guru SDN 16 Timbalun datang menjenguk Dahlan di rumah sakit. Dukungan moral itu memberikan semangat bagi keluarga Malis yang sedang berjuang.
Namun, kebutuhan ekonomi tetap menjadi beban berat. Situasi ini menuntut perhatian lebih, bukan hanya dari warga sekitar, tapi juga pemerintah. Dahlan bukan sekadar korban kecelakaan, ia adalah potret getir anak bangsa yang membutuhkan uluran tangan.
Panggilan Kepedulian.
Kawasan UPTD BBI Bungus, tempat tinggal Dahlan, hanya beberapa langkah dari rumahnya di Kelurahan Bungus Timur, Kecamatan Bungus Teluk Kabung. Ironis, di tengah fasilitas negara yang berdiri megah, ada anak yatim yang harus menahan perih patah tulang dan hidup dalam kesusahan.
Tragedi ini bukan hanya kisah seorang anak, melainkan tamparan keras bagi semua pihak. Sampai kapan anak-anak seperti Dahlan dibiarkan berjuang sendirian dalam kemiskinan?
Dahlan butuh lebih dari sekadar operasi—ia butuh kepedulian nyata.
(Fre/ TIM) / Dodi


