Jakarta – Detikpk.com 26/09/2025. Kisah pilu menimpa Malika Kania Putri, bocah berusia 10 tahun asal Rawa Badak Selatan, Koja, Jakarta Utara. Seharusnya ia duduk di bangku sekolah, namun karena keterbatasan ekonomi, Malika terpaksa berhenti sekolah dan membantu orang tuanya dengan berjualan cilok keliling.

Nasib malang semakin menimpa Malika saat ia ditipu seorang emak-emak. Dagangan dan uang hasil jerih payahnya dibawa kabur. Dalam video yang viral di media sosial, Malika tampak menangis di atas sepedanya sambil membawa gerobak cilok kecil.

Kronologi Penipuan.

Peristiwa terjadi di kawasan Jakarta Islamic Center, Koja, Jumat (19/9/2025). Seorang emak-emak berpura-pura membeli delapan bungkus cilok seharga Rp 40 ribu. Setelah mengetahui Malika sudah mengumpulkan Rp 60 ribu hasil dagangan, pelaku meminjam uang tersebut dengan alasan akan diganti suaminya. Namun hingga ditunggu, sang “suami” tak pernah datang. Uang dan cilok pun raib.

Viral dan Tuai Simpati.

Tangisan Malika yang polos mengundang iba warga. Mereka segera mengumpulkan uang saweran lebih dari Rp100 ribu untuk mengganti kerugian sang bocah. Video tersebut kemudian viral dan menuai ratusan komentar warganet yang mendoakan Malika serta mengutuk tindakan pelaku.

“Indonesia tidak pernah kekurangan orang baik. Salut untuk warga yang langsung turun tangan,” tulis salah satu netizen.

Putus Sekolah Karena Kemiskinan.

Malika diketahui sudah putus sekolah sejak beberapa waktu lalu. Orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikan, sehingga ia berjualan cilok untuk membantu perekonomian keluarga.

Respons Pemerintah.

Lurah Rawa Badak Selatan, Yuyun Wahyudi, langsung mengunjungi rumah Malika usai kasus ini viral. Pihak kelurahan menyerahkan bantuan sembako dan uang tunai, serta berkoordinasi dengan Suku Dinas Pendidikan Jakarta Utara agar Malika bisa kembali bersekolah.

“Kami akan terus memantau kondisi Malika dan keluarganya. Harapan kami, Malika bisa fokus belajar sementara usaha akan dikelola orang tuanya,” ujar Yuyun.

Kisah Malika menjadi cermin kerasnya realitas hidup anak-anak miskin di kota besar. Di usia yang seharusnya dipenuhi keceriaan sekolah, ia justru harus berjuang mencari nafkah, bahkan menjadi korban kejahatan orang dewasa.

Dodi .


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *