detikpk.com
Cianjur, 8 Juni 2026 – Polres Cianjur meningkatkan pengawasan terhadap distribusi dan penjualan kedelai di wilayah Kabupaten Cianjur sebagai langkah antisipatif untuk mencegah praktik penimbunan di tengah kenaikan harga kedelai impor yang berdampak pada para pelaku usaha tahu dan tempe.
Kapolres Cianjur, A. Alexander Yurikho Hadi, menegaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan tim khusus untuk memantau rantai distribusi kedelai dan akan melakukan tindakan hukum terhadap pihak-pihak yang terbukti melakukan penimbunan atau praktik yang menyebabkan harga kedelai menjadi tidak wajar.
Pengawasan ini dilakukan menyusul lonjakan harga kedelai impor yang dipicu oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi tersebut telah meningkatkan beban operasional para perajin tahu dan tempe di Kabupaten Cianjur, bahkan menyebabkan sebagian pelaku usaha menghentikan sementara kegiatan produksinya.
Kapolres menegaskan bahwa kepolisian tidak akan memberikan ruang bagi oknum yang memanfaatkan situasi untuk meraih keuntungan pribadi dengan merugikan masyarakat dan pelaku usaha kecil. Oleh karena itu, Polres Cianjur akan terus melakukan pengawasan serta penegakan hukum guna menjaga stabilitas distribusi bahan baku dan melindungi keberlangsungan usaha masyarakat.
Selain melakukan pengawasan, Polres Cianjur juga mengajak para pengusaha, distributor, dan masyarakat untuk berperan aktif dengan melaporkan apabila menemukan indikasi penimbunan maupun praktik distribusi yang tidak wajar. Setiap laporan yang masuk akan ditindaklanjuti sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Sementara itu, Ketua Koperasi Perajin Tahu Tempe Indonesia (KOPTI) Kabupaten Cianjur, Hugo Siswaya, menyampaikan bahwa harga kedelai impor saat ini telah mencapai sekitar Rp10.500 per kilogram. Kenaikan tersebut berdampak langsung terhadap biaya produksi dan keberlangsungan usaha para perajin tahu dan tempe di Cianjur.
Melalui langkah pengawasan yang intensif, Polres Cianjur berharap distribusi kedelai dapat berjalan lancar, terhindar dari praktik spekulasi maupun penimbunan, serta mampu menjaga stabilitas pasokan bagi para pelaku usaha yang menjadi bagian penting dari perekonomian daerah.
(Rafiqi)
0 Komentar