Kalianda, Lamsel. detikpk.com — Selasa, 27 Januari 2026 Penggiat dan Pemantau Pendidikan Lampung Selatan (P3LS) meminta program Makan Bergizi Gratis (MBG) dihentikan sementara selama bulan Suci Ramadhan. P3LS menilai menghitung bahwa Pemerintah bisa menghemat sedikitnya Rp 36 triliun (Tiga puluh enam triliun) jika Makan Bergizi Gratis (MBG) diliburkan selama jeda satu bulan puasa.
Koordinator Penggiat dan Pemantau Pendidikan Lampung Selatan ( P3LS) Daeng Agus mengatakan pada media kami bahwa angka itu didapatkan dengan menjumlahkan estimasi biaya MBG setiap harinya yang mencapai Rp 1,2 triliun. “Jika biaya MBG sebesar Rp 1,2 triliun per hari, maka meliburkan program selama 30 hari akan menyelamatkan uang negara sebesar Rp 36 triliun,” kata dia
Menurut P3LS, berkaca pada penyaluran MBG saat setiap kali musim liburan, kualitas makanan yang dibagikan kepada siswa dan penerima mamfaat jauh dari standar. Seperti makanan kemasan, nasi keras, sayur layu, dan berbagai makanan tidak layak konsumsi lainnya.
Karena itu, daeng Agus menilai jeda satu bulan puasa itu lebih baik digunakan pemerintah untuk mengevaluasi mitra-mitra MBG yang selama ini masih bermasalah! “Kita butuh jeda untuk memastikan bahwa setelah lebaran, tidak ada lagi anak yang diberi makanan tak layak bahkan diduga keracunan,” ucap dia.
Daeng menjelaskan, anggaran Rp 36 triliun yang digunakan untuk membiayai MBG selama satu bulan itu bukan sekadar angka semata. Ia menuturkan uang dengan nominal tersebut bisa mengubah wajah pendidikan nasional jika digunakan dengan benar.
Dengan uang itu, kata daeng, negara bisa menyelesaikan masalah anak putus sekolah yang saat ini diprediksi berjumlah 4 juta orang. Dengan demikian, jika betul dana MBG Rp 36 triliun itu dialihkan, maka setiap anak sekolah di Indonesia bisa mendapatkan Rp 9 juta. “Itu lebih dari cukup untuk membiayai mereka kembali ke sekolah, membeli seragam, buku, hingga alat penunjang belajar.”
Perbandingan lain, daeng menghitung dana MBG Rp 36 triliun bisa memperbaiki sedikitnya 36 ribu satuan pendidikan di seluruh pelosok Indonesia, dengan asumsi biaya rehabilitasi Rp 1 miliar per sekolah.
“Daripada uang Rp 36 triliun habis hanya untuk membiayai program yang impelementasinya karut-marut, penuh dugaan korupsi, dan memberikan makanan asal ada, jauh lebih bijak pemerintah mengambil jeda Ramadan untuk refleksi,” tutur dia.
(Penulis Komar Tim, Editor Narsam, Redaksi Detikpk.com – Lamsel).


