Kalianda, detikpk.com — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lampung Selatan menyoroti dan prihatin atas penanggulangan sampah yang diakibatkan oleh Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan berpotensi mempengaruhi lingkungan sekitar.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah Bahan Berbahaya Beracun DLH Lampung selatan, Murherwan Murod SE, Menurutnya dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dapat memberikan dampak yang luar biasa pada lingkungan dan kesehatan bila limbah makanan tidak dikelola dengan baik, saat awak media menghubunginya Sabtu,20/12/2025
Muherwan, menekankan pentingnya langkah cepat untuk mengintegrasikan gizi dan kepedulian lingkungan.
“Kami mendorong sekolah dan dapur SPPG mulai memilah sampah sejak dari sumbernya serta memastikan limbah cair diolah dengan benar. Dengan pengelolaan sederhana yang konsisten, kita bisa menjaga anak-anak tetap sehat sekaligus mewariskan bumi yang lestari,” tegasnya.
Muherwan, berpendapat bahwa ini adalah perkembangan yang luar biasa dibandingkan dengan kantin. Meskipun masih belum merata secara geografis, dampaknya terasa secara serentak dan positif.
Jika program ini berjalan cukup lama akan ada peningkatan signifikan dalam jumlah sampah yang dihasilkan oleh Dapur MGB apa bila tak di kelola dengan baik
Oleh sebab itu, manajemen yang efektif diperlukan di setiap dapur MBG, yang di Lampung selatan harus memberikan pendampingan dan edukasi tentang pengelolaan sampah makanan dan tempatnya agar lebih baik.
Meskipun dapur- dapur MBG, juga harus mempertimbangkan dampak pencemaran lingkungan sekitarnya ini harus menjadi perhatian serius bagi pengelola dapur SPPG, terutama menjaga kebersihannya dan kesehatan.
“Salah satu cara untuk mengatasi masalah sampah adalah dengan menciptakan sistem ekonomi yang berkelanjutan. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan maggot untuk mendaur ulang sampah organik dan menerapkan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle),” jelasnya.
Muherwan memberikan tanggapan positif tentang proses pengelolaan sampah MBG yang berhasil diubah menjadi kompos.
Menurutnya, selain sampah MBG, ada banyak sampah organik sehari-hari yang dapat diolah menjadi kompos oleh masyarakat. Mengelola sampah organik ini juga sangat penting dan berdampak positif bagi lingkungan.
Lain daripada itu, dia juga memberikan saran bagi dapur dapur MBG dalam mengatasi masalah sampah di masa depan. Salah satu caranya adalah dengan bekerja sama dengan Dinas Pendidikan untuk membuat kesepakatan dalam pengelolaan sampah.
“Terkadang sulit untuk menyatukan dinas-dinas yang berbeda, seperti Dinas Pendidikan dan DLH. Namun, kami berharap dapat mencapai kesepakatan yang menguntungkan semua pihak dalam MOU ini. Kita harus menunggu kebijakan apa yang akan dikeluarkan oleh pihak-pihak terkait nanti,” tambahnya.
Menurut Muherwan, MBG adalah program yang bagus dan tidak boleh menimbulkan masalah lain, terutama dalam hal sampah dan limbah yang tentunya akan mempengaruhi kesehatan dan pencemaran lingkungan.
Program MBG dapat menjadi kesempatan bagi peserta didik untuk belajar tentang pentingnya memilah sampah. Misalnya, ketika menghadapi sisa makanan yang tidak habis, mereka dapat belajar bagaimana memilah sampah organik dan non organik dengan benar. Hal ini akan membantu mereka memahami betapa pentingnya pengelolaan sampah yang tepat untuk lingkungan.
Sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran lingkungan.
Program ini memperkenalkan peserta didik tentang pentingnya pengelolaan sampah dan merawat lingkungan sejak dini.
“Edukasi anak-anak adalah hal yang paling penting. Setelah makan, mereka harus belajar tentang pemilahan sampah. Di sekolah, ini juga harus diajarkan,” jelasnya.
Muherwan juga berbagi bahwa DLH Lampung selatan sudah lama aktif dalam melakukan pembinaan dan edukasi bagi masyarakat sebelumnya. Salah satu inisiatif yang telah dilakukan adalah memberikan edukasi ke masyarakat yang bertujuan agar membuang sampah pada tempat agar lingkungan kita tak tercemar.
Salah satu narasi kampanye Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi pemerintah melalui Badan Gizi Nasional Adalah untuk menekan angka malnutrisi dan stunting, sekaligus menyiapkan generasi sehat menuju Indonesia Emas 2045. Setiap piring yang tersaji bukan sekadar makanan, tetapi simbol investasi bangsa untuk masa depan.
Namun, di balik piring-piring bergizi itu, persoalan lingkungan khususnya pengelolaan sampah harus menjadi fokus. Sampah sisa makanan diangkut ke Tempat Pengelolaan Sementara (TPS) tanpa pemilahan. Sementara air limbah dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) belum melewati uji kualitas sebelum dibuang ke badan air.
(Penulis Komar Tim, Editor Narsam Redaksi detikpk.com – Lamsel).




