Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, mnctvano.com,- Impian ratusan kepala keluarga korban banjir dan longsor di Tapanuli Tengah untuk menempati hunian tetap (Huntap) yang layak kini diselimuti kecemasan. Pasalnya, diduga seluruh akses jalan utama menuju lokasi kawasan pembangunan hunian tetap (HUNTAP) hancur total, di jln Sitonong Bangun, Kecamatan Pinangsori, Kabupaten Tapanuli Tengah, dinilai berdampak serius terhadap kelancaran pembangunan. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan terganggunya target penyelesaian (serah terima) yang dijadwalkan pada Mei 2026. diduga bisa menghambat proses penyelesaian fisik rumah di beberapa titik.
Hasil pantauan para media di lapangan pada Rabu (6/5/2026) menunjukkan bahwa jalan utama yang menjadi jalur distribusi material proyek berada dalam kondisi memprihatinkan.
Permukaan jalan berlumpur, dipenuhi genangan air, serta sulit dilintasi kendaraan berat, khususnya truk pengangkut material konstruksi. Di sejumlah titik, kerusakan tergolong berat dengan kubangan air dan badan jalan yang belum mengalami perataan optimal.
Persoalan ini diperburuk oleh sistem drainase yang belum berfungsi maksimal. Aliran air hujan yang tidak tertangani dengan baik menyebabkan genangan berlangsung lama, sehingga mempercepat degradasi jalan dan menghambat mobilitas logistik proyek.
Seorang warga setempat yang tidak mau disebut identitas nya di media bahwa pihak Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Kabupaten Tapanuli Tengah sebelumnya telah menyampaikan komitmen untuk melakukan perbaikan, termasuk penanganan aliran air bersih. Bahkan, disebutkan adanya batas waktu perbaikan selama 14 hari sejak Maret 2026. Namun hingga kini, kondisi di lapangan dinilai belum menunjukkan perubahan yang signifikan.
“Perbaikan sudah dijanjikan dengan batas waktu, tapi sampai sekarang belum terealisasi dengan baik. Ini tentu sangat disayangkan,” ujarnya.
Informasi di lapangan juga menyebutkan bahwa sejumlah pihak terkait telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi guna melihat kondisi aktual. Meski demikian, realisasi penanganan yang diharapkan masyarakat hingga kini belum tampak optimal.
Kondisi akses yang tidak memadai tersebut berdampak langsung terhadap progres pembangunan Huntap. Hambatan distribusi material berpotensi memperlambat pekerjaan, sekaligus memunculkan risiko tidak tercapainya target penyelesaian pada waktu yang telah ditetapkan.
Dalam upaya memperoleh konfirmasi, beberapa media telah mendatangi lokasi proyek untuk menemui pihak yang berwenang, termasuk pimpinan proyek (pimpro) PT. Langkah Indo Nusantara (penanggung jawab), Ir. Abu Lim Namun, pada saat kunjungan dilakukan, pihak pimpro tidak berada di lokasi.
Upaya konfirmasi lanjutan melalui sambungan telepon seluler kepada pimpinan proyek maupun kontraktor pelaksana juga telah dilakukan. Hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan resmi yang diberikan.
Situasi ini menjadi catatan penting bagi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, pimpinan proyek, hingga kontraktor pelaksana. Diperlukan langkah responsif, terukur, dan terkoordinasi, khususnya dalam pembenahan akses jalan serta optimalisasi sistem drainase, agar progres pembangunan dapat kembali berada pada jalur yang direncanakan.
Meskipun pemerintah daerah dan pusat terus mengupayakan percepatan, hancurnya akses menjadi kendala besar yang harus segera diatasi agar warga tidak berlarut-larut dalam ketidakpastian.
(Tim)
Bersambung


